Breaking News
Loading...

Sebuah Awal (2)

Share on Google Plus

(Kisah Sekolah Batutis #1)

Persoalan kedua yang harus dihadapi adalah materi pelajaran. Kurikulum seperti apayang akan aku berikan kepada mereka? Itu bukan hal mudah. Karena kalau salah, akan berakibat fatal pada para anak didik.

Untuk mengatasi hal itu, aku meminjam buku-buku panduan untuk TK dari beberapa guru TK yang aku kenal. Aku mulai membacanya satu persatu hingga habis. Karena masih marasa kurang, aku membeli sejumlah buku panduan dari beberapa penerbit.

Observasi di beberapa TK juga cukup membantu dalam persoalan sistem pengajaran. Aku berdiskusi dengan mantan guru TK anakku. Meminta masukan tentang bahan materi untuk mengajar nanti. Tetapi, sesudah membaca sekian banyak, akhirnya aku bingung juga harus memulai dari mana?

Berhari-hari, aku hanya diam, memikirkan apa yang harus aku siapkan. Sementara, waktu yang berjalan terasa begitu cepat. Ketika itu, sudah memasuki bulan Agustus. Semua sekolah sudah memulai tahun ajaran baru, dan aku makin panik. Artinya, kami telah ketinggalan dua bulan dari sekolah yang lain.

Aku benar-benar memohon kepada Allah pada setiap doalku. Mohon petunjuk dan mohon diberi kemudahan. Akhirnya aku memutuskan mengikuti kurikulum pemerintah. Tetapi, aku menambah semua kegiatan kreativitas. Alhamdulillan, kurikulum untuk satu semester selesai dalam waktu tiga pekan. Di sela-sela aku mengerjakan kurikulum harian untuk satu semester, aku pun masih harus mengurus  orangtua yang mendaftarkan anak-anak mereka. Hanya dengan menyebar 10 lembar selebaran, dalam waktu sepekan, jumlah murid yang mendaftar sudah 55 anak. Aku harus menyeleksi untuk umur dan keadaan ekonomi mereka. Karena, saat itu ada beberapa orangtua murid yang ternyata status ekonominya cukup baik, ikut mendaftar. Aku tidak mengerti, kenapa mereka harus mengambil hak orang miskin?

Akhirnya, setelah bekerja keras selama dua pekan, kami berhasil menyeleksi 45 murid yang kami anggap benar-benar  memenuhi syarat. Semua gratis. Mereka hanya membayar uang tabungan wajib sebesar Rp. 5000, dan itu akan kami kembalikan dalam bentuk alat-alat sekolah, dan foto setelah mereka lulus nanti. Persoalan terjadi: ruang kelas hanya satu. Garasi yang akan dijadikan kelas untuk TK itu hanya bisa menampung paling banyak 35 anak, yang akan dibagi dalam dua kelas, pagi dan siang. Mau dikemanakan sisanya?

Aku tak sanggup menolak mereka, sementara semua orangtua ingin anaknya masuk sekolah.

Setelah semua urusan pendaftaran beres, aku kembali pada persiapan materi dan persiapan mengajar. Allah telah mengirim dua orang guru yang mau berjihad bersama. Mereka tidak memandang honor yang sangat kecil. Mereka tetap mau belajar bersama, untuk membantu anak-anak miskin menuju perbaikan nasib.

Pada saat yang sama, tetangga depan rumahku menawarkan diri untuk membantu, Bu Dyah namanya. Subhanallah, kembali Allah mengirimkan orang-orang yang baik untuk sekolah kami. Terimakasih, ya Allah! Seketika itu juga aku menjadikan Bu Dyah sebagai wakil kepala sekolah.

Hari pertama aku mengajar "paksa" di sekolahku, aku dibantu dua orang guru yang juga tanpa ijazah guru TK. Kami agak gemetar menghadapi 18 pasang mata kecil (dari kelas Kelompok B pagi yang memandang penuh harapan kepada kami. Belum lagi para orangtua mereka yang bergantung pada kami akan masa depan anaknya. Jujur saja, rasanya kalau boleh aku mau mundur dan berlari saat itu juga. Dalam hati, pelah-pelan aku berdoa... Ya Allah Yang Maha Penyayang, beri aku kekuatan, beri aku petunjukMu dalam menuntun semua titipanMu ini... aku takut ya Allah... takut salah arah dalam membawa mereka. Aku mohon padaMu....

Tidak pernah terlintas di benakku kalau suatu saat aku akan menjadi guru TK. Tetapi kalau Allah sudah punya rencana, kita hanya bisa menjalankan amanahnya dengan baik.

Justru anakku yang kedua, perempuan, Taya, yang sejak umur empat tahun hingga kelas enam SD, bercita-cita menjadi guru TK. Tetapi, setelah itu, tak terdengar lagi. Sekarang, aku menantikan ia mengungkapkan lagi cita-citanya itu, untuk TK kami.

Semangat mengajarku, mungkin ditularkan oleh suamiku, yang juga dosen di sebuah perguruan tinggi. Ia juga guru yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Ia mendorongku agar berani mengajar. Aku banyak belajar tentang kehidupan dengannya, walaupun tak jarang kadang ada perbedaan pendapat. Itu juga satu pembelajaran untuk menahan emosi. Kedekatan kami yang begitu erat, kadang juga sangat merepotkan. Saling bergantung dan selalu ingin bersama, kadang menimbulkan persoalan lain. Sekali lagi aku merasa itu juga anugerah dari Allah. Setiap diskusi dengannya adalah saat aku belajar. Banyak sekali aku menggali ilmu darinya.

Suamiku tercinta memberiku hadiah di awal tahun ajaran, sebuah yel yang luar biasa bagus, untuk TK Batutis. Seperti ini bunyinya:

Batutis..... YES!
We Believe.... ALLAHU AKBAR
Alyways Say.... ALHAMDULILLAH

Ia juga membuatkan ikrar yang sangat indah buat muridku dan guru.

IKRAR TK BATUTIS AL-ILMI
Bersapa.... ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH
Bermula.... BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Bersaksi.... LAILAHAILLALLAH
Belajar...... INSYA ALLAH
Bersyukur.... ALHAMDULILLAH

Subhanallah, yel dan ikrar itu kadangmembuat aku menangis. Betapa kami sejak pagi diwajibkan mengingat Allah dengan cara apa pun, selalu! Anak-anak muridku dengan cepat menghafalnya. Aku berharap, sejak dini mereka sudah mengenal rasa syukur kepada Allah....

Sepertinya, mengaja di TK khusus untuk anak-anak dhuafa merupakan hal yang sangat sepele. Yang pasti, itu sangat berbeda dengan TK komersial. Orang pasti akan berpikir sangat mudah: toh mereka anak-anak orang miskin! Diberi makan dan mainan saja, pasti sudah senang.

Persoalan akan menjadi lain kalu kita ingin memberikan yang terbaik untuk mereka.

Bagiku, hal yang cukup sulit untuk menjadi guru adalah ketika harus memahami isi kepala anak-anak satu per satu. Berusaha adil untuk ketiga orang anakku saja, lumayan sulit. Bagaimana aku harus belajar memahami dan adil kepada 45 orang murid? Wah...! []

==============================
[Judul berikutnya: Satu Bulan Pertama]

You Might Also Like

0 comments

About me

Like us on Facebook

Blog Archive