Breaking News
Loading...

Satu Bulan Pertama (1)

Share on Google Plus

Kisah Batutis #2
[Catatan Pribadi Ibu Siska Yudhistira Massardi]



Saat paling sulit adalah ketika kita ingin memulai sesuatu. Apalagi sesuatu yang positif. Padahal, jika sudah dimulai, terkadang sulit untuk dihentikan. Kadang kita dibebani oleh target ke depan yang ingin sempurna. Karena terlalu banyak pertimbangan, malah berakhir gagal sebelum dimulai.

Pesan suamiku sebelum aku mengajar adalah: "Sekali memulai dengan TK ini, kamu tidak akan bisa berhenti!" Itu juga merupakan vitamin semangat yang senantiasa membuat aku tetap berusaha istiqomah  dalam menjalankan sekolah kami.

Kelas kami berada di dalam garasi mobil, di samping rumahku. Pada saat itu, kami sedang tidak punya mobil. Selama 18 tahun usia perkawinan, kami selalu mempunyai mobil, malah sampai dua. Nah, pada saat itu, kami memutuskan untuk menjual mobil tua milik pribadi karena merasa sukup dangan satu mobil saja, mobil fasilitas dari kantor suamiku.

Eh, ternyata, satu bulan kemudian, setelah mobil pribadi itu dijual karena keadaan ekonomi, perubasahaan semakin sulit, akhirnya mobil kantor yang dibawa suamiku dijual untuk membayar gaji karyawan. Maka kami pun tak punya mobil lagi!

Aku merasa, itu semua sudah jalan Allah. Mungkin, kalau aku masih punya (dua) mobil, sulit untuk membuat TK di garas, karena masih terpakai oleh mobil.

Kami, jujur saja, pertama-tama tentu merasa sedih karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tak punya mobil. Tetapi, karena kami sudah "terlatih" untuk menghadapi masa-masa sulit, akhirnya kami bisa menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Toh, masih banyak kendaraan umum yang bisa digunakan untuk transportasi.

Dalam waktu pendek saja, kami sudah bisa menyesuaikan diri. Bahkan, kami sekeluarga akhirnya bisa menikmati "piknik" dengan angkutan umum.... selama sembilan bulan! Anak-anak begitu menikmatinya. Kami jadi bisa banyak bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal di dalam angkutan kota. Kami harus berimpitan atau berbagi tempat duduk dengan mereka. Menikmati berkeringat karena kepanasan, atau masuk angin karena jendela dibuka lebar oleh penumpang lain. Jika di musim hujan, berpengap-pengap dan basah. Tetapi, semua pengalaman itu sungguh luar biasa dan mengasyikkan!

Ruang kelas di garasi mobil itu berukuran 4 x 7 meter. Di sisi kanan, berjejer meja kecil panjang untuk murid menulis dan melakukan kegiatan. di sisi kiri sekarang, terdapat rak tempat alat-alat bermain Sentra, dan juga kotak plastik besar untuk menyimpan perlengkapan alat penunjang kegiatan. TK kami tidak menggunakan kursi, supaya tidak mempersempit ruangan. Kadang, meja juga tidak kami gunakan. Misalnya saat guru membacakan cerita. Sebagai gantinya, kami menggunakan karpet.

Kami juga memasang dua buah kipas angin di atap supaya ruangan tidak terlalu panas, walaupun jika cuaca sedang panas kadang baling-baling itu tidak dapat membantu.

Di pojok kanan juga ada sebuah kran, yang dulu untuk mencuci mobil, sekarang untuk anak-anak mencuci tangan dan mencuci piring setelah makan bersama

Pintu masuk kelas ada di sebelah kiri, sejajar dengan rak tempat analt-alat sentra. Anak-anak memang tidak masuk melalui gerbang garasi. Gerbang itu selalu tertutup, dan lubang-lubang teralisnya ditutup dengan fiber, supaya anak-anak bisa konsentrasi di kelas, tidak terganggu oleh pemandangan di luar --termasuk dari ibu para murid yang suka mengintip. Pagar denga tinggi hampir dua meter itu kadang menjadi  pusat sasaran tendangan kaki anak-anak yang marah atau berkelahi. Kami juga punya dua lemari, tempat buku dan rapor, serta data murid.

Ketika kami sedang mengajar, kesan garasi terasa tidak ada. Kelas menjadi seperti sungguhan saja. Suamiku telah berusaha membuat kelas menjadi nyman. Aku benar-benar menyeleksi setiap bacaan yang akan ditempatkan di kelas, untuk kenyamanan anak. Banyak temanku yang heran dengan suasana kelas kami. Jika sore hari atau di hari libur sekolah, ruangan itu kembali menjadi tempat jemuran; dan sekarang malam hari, kembali berfungsi menjadi garasi mobil, setelah kami berhasil memiliki mobil lagi, sebuah jip Xenia.

Awal masuk sekolah, suasana benar-benar tidak terkendali. Ada beberapa murid yang menangis, ada yang ingin ditemani oleh ibunya. Jumlah murid yang banyak, membuat anak-anak menjadi sulit untuk bergerak. Hari pertama akhirnya hanya diisi dengan perkenalan, yang masih dihiasi dengan tangisan dan kepanikan para guru.

Karena kelas terlalu penuh, akhirnya teras rumah Bu Dyah tetanggaku, yang juga wakil kepala sekolah, direlakan untuk juga dijadikan ruang kelas. Alhamdulillah.... Kelompok A akhirnya menjadi dua kelas. Masalahnya, kedua orang guru perempuan yang membantuku, ternyata belum siap terjun langsung dalam mengajar. Dengan mengucapkan bismillah, aku mengambil alih pengajaran dari awal sampai akhir pelajaran, selama beberapa bulan. kedua guru lain hanya mengamati dan membantu sebagai guru pendamping. Sungguh masa yang paling sulit.

Beberapa anak dari Kelompok B, yang usianya antara lima sampai dengan tujuh setengah tahun, cenderung sulit diatur, dan kadng-kadang melawan. Seorang murid bernama Syarifudin, agak menyita perhatian para guru. Beberapa kali Syarifudin aku panggil, tetapi dia tidak memedulikan aku. Aku coba memancingnya dengan membacakan cerita dari sebuah buku. Hanya sesaat ia mengikuti, lalu kembali berlarian dalam kelas, mengganggu yang lain.

Pada bulan ketiga, Bu Neneng dan Bu Rumi sudah memberanikan diri mengajar separuh waktu, walau masih canggung. Aku mengambil posisi melakukan pengamatan khusus (observasi) terhadap anak-anak yang memiliki sifat tertentu. Syarifudin adalah yang pertama menarik perhatianku. Aku ingin tahu, ada apa di balik sifatnya yang tidak pernah mau mendengar. Ketika aku bertanya pada ibunya, ia hanya bilang anaknya di rumah sangat nakal dan memang tidak pernah mau mendengar orangtua. Bicaranya juga belum jelas, padahal secara fisik "Fudin" cukup tampan, berkulit gelap dan berwajah agak bulat, berhidung sedikit mancung, rambutnya berwarna kemerahan, karena sering terkena matahari.

Fudin sering sekali berteriak, lalu aku segera tersenyum Hampir setiap hari aku memberi salam dan bertanya apa kabar? Dia hanya menjawab dengan senyum, dan langsung mencium tanganku.

Suasana dalam kelas sangat panas, belum lagi aroma dari tubuh anak-anak yang cukup "menyengat" dan kadang-kadang membuat para guru pening. Maklum, mungkin mereka mandi tanpa menggunakan sabun wangi. Karena, ketika aku bertanya  pada mereka, banyak yang bilang tidak ada sabun dan shampoo di rumah. Jadi, bisa dibayangkan seperti apa bau rambut yang lengket dan aroma tubuhnya. Padahal, mereka sangat senang minta dipangku oleh ibu guru.

Pada awalnya, sekolah kami tidak memiliki baju sergam, karena dan kami terbatas. baru dua bulan kemudian mereka kami beri seragam. Pada waktu belum memakai seragam, ada beberapa anak yang tidak berganti baju sampai dua atau tiga hari, menambah aroma tidak sedap pada tubuh mereka.

Fudin adalah salah satu anak  yang jarang berganti baju. Selama tiga hari, ia memakai baju yang sama. Sejak awal masuk, ia mengenakan baju koko warna biru muda. Ada dua kantong pada bajunya --yang sebelah kanan sudah robek. Sepertinya, ibunya berusaha menambal dan menjahit dengan tangan sendiri,memakai warna benang yang berbeda, membuat corak yang mencolok pada kantongnya.

Rambut Fudin, ketika aku sentuh, sangat lengket dan berbau. Oya, Fudin bersekolah dengan adiknya, yang wajahnya sangat jauh berbeda dengannya. Adiknya berwajah lebar, hidungnya agak pesek dan bermata sedikit sipit. Rambutnya lebih merah dari Fudin, tetapi kulitnya lebih putih. Secara fisik, Fudin jauh lebih menarik, ia berwajah sangat manis.

Pekan kedua adalah saat yang paling berat buat para guru. Setiap selesai mengajar, kami mengadakan evaluasi tentang keadaan tiap kelas. Bu Neneng, yang sejak awal kelihatan sangat bersemangat terlihat cukup letih. Kalau Bu Rum yang cenderung pemalu, memohon diberi kesempatan untuk mengamati dulu. Artinya, ia belum sanggup untuk mengajar, dan meminta aku kembali mengajar.

Memang, kalau Bu Rum mengajar, suasana kelas tidak terkendali. Pernah aku melihat ia sampai  hampir menangis karena merasa frustrasi. Bu Rum mengajar di kelas Kelompok A yang usia muridnya berkisar tiga setengah tahun hingga empat setengah tahun. Usia yang memang masih sulit untuk dikendalikan.

[Bersambung]

You Might Also Like

0 comments

About me

Like us on Facebook

Blog Archive