Kisah Batutis
Sebuah Awal (1)
(Kisah Sekolah Batutis #1)
Suasana Pelatihan Metode Sentra di Sekolah Batutis. Datang dari berbagai penjuru Indonesia.
[PENGANTAR: Sekolah Batutis Al-Ilmi, sekolah gratis untuk kaum dhuafa di Pekayon, Bekasi, Jawa Barat, dimulai dari sebuah garasi rumah keluarga Bapak Yudhistira ANM Massardi pada tahun 2005. Kini, Sekolah Batutis sudah terdiri dari Baby-House, Kelompok Bermain, TK dan SD. Didirikan pertama kali sebagai sekolah konvensional, kini hampir sepanjang tahun, Sekolah Batutis dikunjungi para guru dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, yang mengikuti pelatihan guru Metode Sentra, atau sekadar melakukan observasi. Kisah ini diambil dari catatan pribadi Ibu Siska Yudhistira Massardi, yang telah dibukukan dengan judul Rumah Kisah, Selamat Datang Di Garasi. Silakan menikmati]
Anak perempuan
kecil berkulit hitam dengan rambut kuncir dua itu bernama Novita. Sejak
memasuki kelas kami dengan membawa tas punggung lusuh berwarna merah jambu, ia
menyedot perhatian semua guru. Ia berbicara kadang tanpa henti. Suatu hal yang
tidak biasa terjadi pada murid baru. Itu membuat semua murid dan guru butuh
waktu untuk mendengarkan celotehannya. Aku anggap itu cukup spesial dalam
menghadapi seorang anak empat tahun di taman kanak-kanak kelompok A.
Untukku,
yang memulai sebuah profesi dadakan menjadi seorang guru taman kanak-kanak (TK)
tanpa bekal pendidikan guru, menghadapi anak seperti Novita tentu tidak mudah.
Tetapi, karena aku memang sejak dulu menyukai dan senang mendengarkan celoteh
anak-anak, kasus seperti itu justru jadi menarik.
Novita adalah
satu dari begitu banyak anak-anak balita dari keluarga miskin yang berseliweran
di dekat rumahku, tanpa kegiatan yang jelas. Orangtua mereka tidak mampu
menyekolahkan ke TK. Sebab, besarnya uang pangkal kadang tidak masuk akal,
ditambah biaya iuran bulanan yang tinggi, untuk kalangan miskin seperti mereka,
tidaklah terjangkau.
Kenyataan
itu membuat pikiranku terus tertuju pada perkembangan anak-anak itu. Padahal,
seperti yang aku dengar dari ibu-ibu mereka, yang rata-rata hanya pembantu
rumah tangga, untuk memasukkan anak mereka ke SD sesuai dengan ketentuan di
negara ini, si anak sudah harus dalam keadaan bisa membaca dan menulis.
Artinya, anak-anak itu harus menempuh pendidikan di TK dulu.
Lantas, bagaimana kalau mereka, karena kemiskinan orangtuanya tidak bisa sekolah TK? Solusi apa yang diberikan oleh pemerintah?
Seorang pembantu rumah tangga yang tinggal mengontrak di dekat rumahku mengatakan, anaknya sudah berumur hampir delapan tahun, dan sudah dua kali tes masuk SD tidak lulus, karena belum mengenal huruf dan angka. Aku bertanya, kenapa tidak diajarkan sendiri oleh sang ibu? Jawabannya, 'Wah, mana sempat, Bu. Saya harus kerja dari pagi sampai sore. Bapaknya jadi kuli. Kalau kami tidak kerja, dari mana kami makan dan bayar kontrakan?"
Seorang pembantu rumah tangga yang tinggal mengontrak di dekat rumahku mengatakan, anaknya sudah berumur hampir delapan tahun, dan sudah dua kali tes masuk SD tidak lulus, karena belum mengenal huruf dan angka. Aku bertanya, kenapa tidak diajarkan sendiri oleh sang ibu? Jawabannya, 'Wah, mana sempat, Bu. Saya harus kerja dari pagi sampai sore. Bapaknya jadi kuli. Kalau kami tidak kerja, dari mana kami makan dan bayar kontrakan?"
Jawaban itu membuat aku tersentak, dan berhari-hari gelisah memikirkannya. Kerisauan itu berlangsung cukup lama. Aku merenenug, pastilah sangat banyak ibu-ibu miskin lain yang tidak mampu menyekolahkan anaknya ke TK, dan karena itu si anak gagal masuk SD karena tak mampu baca-tulis. Melihat itu, aku lantas bertanya-tanya, apakah aku hanya bisa diam dan berkali-kali mengucapkan kata "kasihan"? Tidak! Entah kenapa, batinku terus bergolak agar aku melakukan sesuatu untuk menyelamatkan anak-anak itu.
Setelah berdiskusi dengan suami dan mendapat dukungan penuh, aku langsung berniat membuka sekolah TK gratis untuk anak-anak dhuafa. Dibantu dengan seorang sahabatku, Wiwin, seorang aktivis yang sangat peduli kepada kaum dhuafa, kami memulai dari nol. Wiwin membantu sejak awal, sejak ide itu dicoba dilaksanakan sampai hari kedua sekolah dimulai. Sekolah itu oleh suamiku dimulai TK Batutis Al-Ilmi. Batutis adalah kependekan dari "baca tulis gratis."
Wiwin tidak bisa terus membantuku, karena ia baru saja menikah dan harus mengajar di tempat lain. Jadi, aku harus berjuang sendiri melanjutkan misi itu. Tidak terbayangkan, persoalan menjadi sangat kompleks dalam menganangai sekolah TK. Pikiranku pada saat-saat awal, itu akan mudah saja. Hanya mengajari mereka menyanyi, hafal huruf dan angka, serta sedikit pelajaran budi pekerti menurut agama Islam. Ternyata, dalam kenyataannya, begitu banyak hal yang harus dilakukan dan dipelajari. Sungguh tak terbayangkan.
Persoalan pertama, dari mana biayanya? Aku bukan orang kaya yang mempunya banyak tabungan di bank. Keluargaku hidup dari gaji suami. Itu pun, hanya cukup untuk bayar cicilan rumah, biaya sekolah tiga anak, dan kebutuhan pokok rutin, dan tidak pernah ada sisa yang bisa ditabung di bank! Aku sendiri hanya ibu rumah tangga. Kadang memang kami masih bisa sekadar ngopi di kafe dan jalan-jalan bersama anak-anak sekali atau dua kali dalam sebulan. Sangat sering sebelum habis bulan, kami sudah kehabisan uang dan mengandalkan kartu kredit yang kami anggap sebagai dewa penolong saat itu. Sungguh, di masa itu, kami harus super hemat dalam beberapa hal. Tetap, kami sekeluarga selalu mensyukuri seluru rezeki yang kami terima dariNya.
Tetap, aku tahu, Allah Maha Mendengar dan Maha Menolong. Dan, benar, doaku didengar.... aku mulai bisa menabung. Kami mendapat rezeki tambahan, dan akau menyimpannya sedikit demi sedikit selama tiga bulan. Aku mengurangi ngopi-ngopi dan makan di luar, juga rekreasi rutin bulanan.
Mula-mula, anak-anak agak protes. Tetapi, aku memberikan pemahaman kepada mereka, bahwa masih banyak anak-anak yang membutuhkan pendidikan demi masa depan mereka. Toh, rekreasi dan makan di luar bukan suatu hal penting!
Mula-mula, anak-anak agak protes. Tetapi, aku memberikan pemahaman kepada mereka, bahwa masih banyak anak-anak yang membutuhkan pendidikan demi masa depan mereka. Toh, rekreasi dan makan di luar bukan suatu hal penting!
Perlu waktu untuk membuat mereka paham akan hal itu. Separuhnya mereka mengerti, walau belum sepenuhnya. Tetapi, aku sangat menghargai pengorbanan mereka. Karena, aku sdikit mengambil hak mereka untuk kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan. Tidak mudah untuk anak seusia mereka, tetapi kepada mereka harus diajarkan bagaimana harus berbagi, sejak dini. Uang jajanku (karena aku tergolong orang yang suka jajan) aku pangkas hampir 80 persen!
Aku dan suami mulai menyicil membeli perlengkapan TK dengan uang yang terbatas. Saat itu, hasil aku menabung selama tiga bulan, terkumpul total Rp. 3.750.000,-. Suamiku membuat sendiri rak sepatu, rak tempat tas murid dan papan tulis, untuk menghemat biaya. Kami harus pandai-pandai menyusun anggaran, agar cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Subhanallah, suamiku benar-benar serius membantu. Tak jarang, ia kasih aku informasi dari buku dan kliping koran berita-berita tentang TK.
Aku dan suami mulai menyicil membeli perlengkapan TK dengan uang yang terbatas. Saat itu, hasil aku menabung selama tiga bulan, terkumpul total Rp. 3.750.000,-. Suamiku membuat sendiri rak sepatu, rak tempat tas murid dan papan tulis, untuk menghemat biaya. Kami harus pandai-pandai menyusun anggaran, agar cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Subhanallah, suamiku benar-benar serius membantu. Tak jarang, ia kasih aku informasi dari buku dan kliping koran berita-berita tentang TK.
Aku sendiri mencoba mencari informasi dari teman dan beberapa mantan guru TK anakku. Aku membeli beberapa buku tentang pendidikan di TK untuk bahan materi. Aku juga melakukan observasi di beberapa TK yang berada di sekitar lingkungan perumahan kami, dan banyak berdiskusi dengan suami.
Di luar dugaan, suara negatif ternyata muncul dari beberapa orang. Tetapi, aku menganggap itu juga merupakan masukan yang cukup berarti. Karena, yang terpenting buatku saat itu: melakukan sesuatu untuk sesama, dalam hal ini pendidikan!
Kita tidak bisa hanya banyak bicara, dan terlalu idealis. Contoh soal, ketika temanku bilang, bahwa anak TK harus mempunya krayon sendiri-sendiri, kalau tidak, akan berdampak secara psikologis pada anak saat mereka akan berkarya. Buatku, itu justru yang berdampak tidak baik pada anak-anak sekarang. Karena, ada sekolah seperti itu mendidik anak-anak menjadi individualis, menjadi sangat egois, dan jarang mau berbagi. Itu akibat mereka sejak kecil sudah didik secara individualis dalam hal-hal materi. Itu juga terjadi pada anak-anakku.
Tetapi, yang mendukung pembuatan TK gratis itu juga cukup banyak. Terutama ayah dan ibu, serta saudara-saudaraku yang lain. Mereka memberi semangat. Senang rasanya mendapat dukungan dari mereka. Temanku juga banyak yang mendukung.
Garasi Rumah Keluarga Bapak Yudhistira ANM Massardi. Memulai dari nol.
Sebelum membuka TK, aku memohon doa restu kepada kedua orangtuaku. Mereka mendukung sepenuhnya, juga mendoakan agar semua berjalan lancar seperti yang aku harapkan. Haranpanku saat itu hanyalah bisa mendidik anak murid sesuai dengan ajaran Rasulullah dan Al-Qur'an. Menjadikan mereka anak yang saleh dan salehah, amin.
Saat niat itu aku utarakan pada ayah, ia berkata, "Alhamdulillah, akhirnya pa yang kamu cita-citakan sejak dulu tercapai. Semoga sukses dan lancar dalam menjalankan amanah ini."
Saat niat itu aku utarakan pada ayah, ia berkata, "Alhamdulillah, akhirnya pa yang kamu cita-citakan sejak dulu tercapai. Semoga sukses dan lancar dalam menjalankan amanah ini."
Aku tersentak akan kata-katanya. Aku baru menyadari bahwa membuat TK adalah cita-citaku sejak lama. Dan ayahku mengingatkan kembali hal itu. Dulu, aku memang bercita-cita punya TK. Tetapi, saat itu aku ingin membuka TK yang komersial tentunya. Bahagia rasanya, tanpa diduga, satu dari cita-citaku sudah tercapai, walau dalam kondisi yang berbeda. Tidak ada yang kebetulan, semua sudah rencana Allah. Aku yakin itu.


0 comments